Tekstur tanah di Kabupaten Majene yang berbatu tidak menyurutkan para petani dalam memanfaatkan lahan. Melalui Program Revolusi Hijau, perbukitan yang ada di Kecamatan Banggae dan Banggae Timur berupa lahan tidur kini mulai dimamfaatkan, seperti di Lingkungan Ba’alang, Kecamatan Banggae Timur.

Salah satu komoditas yang dikembangkan untuk pemamfaatan lahan tidur tersebut adalah bawang merah, yang ditanam di lahan milik 3 kelompok tani yaitu Sipatuo, Cakra Buana, dan Hijau Lestari. Bupati Majene Fahmi Massiara selaku Ketua TPID Majene bersama Wakil Bupati Lukman beserta Sekda Majene A Sukri turut serta melakukan penanaman perdana pada Sabtu, 27 Oktober 2019.

Pemanfaatan lahan kritis juga diharapkan dapat menjadi program atau upaya pengendalian inflasi pada komoditas bawang merah dimana fluktuasi harganya sangat lebar, sehingga menyebabkan ketidakpastian kepada petani maupun konsumen, bahkan terkadang petani harus menelan kerugian karena harus menjual bawang merahnya dengan harga rendah.

Dalam dialog dengan petani, Wakil bupati merespon baik permintaan para kelompok tani untuk memiliki sanggar tani, namun Lukman mengajak para petani turut berpartisipasi dalam pembangunannya misalnya menyediakan pondasi atau tiang terlebih dahulu, kemudian pemerintah bisa membantu atau merampungkan sanggar tani tersebut.

Sampai saat ini, baru 7 hektar lahan yang telah ditanami dari 22 hektar yang direncanakan untuk pengembangan bawang merah dengan bimbingan dari Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan. Lahan tersebut merupakan lahan dari 32 kelompok tani di Majene. Untuk menanami lahan seluas itu, dibutuhkan bibit bawang merah seberat 60 ton.

(diskominfomajene) Sumber : Irwan Susanto Bapeda Majene