Ada sebuah ungkapan di Mandar, bila seorang pemuda berniat mencari wanita untuk pasangan hidup, ada 2 hal yang harus dihindari, yaitu To Poppoang dan To Perasungang.

To Poppoang atau Poppo’ mungkin akan ditulis dalam artikel yang lain, artikel kali ini lebih memfokuskan untuk sedikit menganalisa tentang To Perasungang (Tukang Racun Orang).

Menguak fakta To Perasungang bagaikan berusaha untuk menangkap asap, betapa tidak, sebagian besar masyarakat terutama yang paruh baya meyakini bahwa To Perasungang adalah kenyataan yang tak terbantahkan, sementara pembuktiannya untuk menjadi sebuah fenomena adalah hampir mustahil.

Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, To Perasungang meracun orang sebagai tumbal untuk meningkatkan kekayaannya, bila tumbal meninggal, To Perasungang meyakini jalan rezekinya akan terbuka lebar. Dari sudut pandang ini, To Perasungang dapat dikategorikan sebagai salah satu cabang dari ilmu pesugihan. Orang yang dipilih To Perasungang untuk jadi tumbal bisa saja sebelumnya adalah orang yang mempunyai masalah dengannya, atau didasari rasa iri hati, atau bisa juga siapa saja tanpa ada latar belakang khusus.

Ada bermacam cara To Perasungang dalam melancarkan aksinya, misalnya menyajikan makanan atau minuman yang sudah sebelumnya terlebih dahulu dicampur racun, bisa juga makanan milik tumbal sendiri kemudian dipegang dan dibubuhi racun, bisa juga dengan membubuhi racun pada dagangan seseorang yang kemudian pembeli yang memakan makanan tersebutlah yang akan menjadi tumbal. Bahkan ada kepercayaan bahwa untuk meracun, To Perasungang tidak memerlukan racun dalam bentuk fisik, tapi cukup dengan memantrai makanan sudah bisa menyebabkan makanan tersebut terkontaminasi oleh racun.

Itulah kepercayaan yang berkembang di masyarakat, bagaimana dengan fakta lapangan?

Banyak kasus orang yang meyakini dirinya telah diracun, bukan satu atau dua. Kebanyakan gejalanya adalah mereka memuntahkan darah segar bahkan ada yang sampai meninggal setelah mereka memakan makanan tertentu. Ketika ditanya apakah sebelumnya mereka memiliki riwayat penyakit seperti batuk dan sejenisnya, mereka menjawab tidak. Karena kondisi sebelumnya yang sehat wal afiat inilah, mereka yakin 100% bahwa dirinya telah diracun.

Kalau begitu kenapa tidak ada yang ditangkap polisi?

Walaupun sangat yakin dirinya diracun, tapi untuk membuktikan dirinya benar-benar diracun adalah perkara yang berbeda. Hampir tidak ada korban yang bisa membuktikan secara nyata kebenaran tuduhannya, hanya terbatas sampai praduga belaka. Dalam masyarakat seringkali dugaan bahwa seseorang adalah To Persungang menimbulkan perdebatan dan keretakan hubungan, dan tertuduh To Perasungang secara otomatis akan mendapatkan sanksi sosial berupa pengucilan dari pergaulan, bahkan seringkali sanksi sosial bukan hanya mengena kepada yang tertuduh, tapi sampai kampung orang yang dicurigai sebagai To Perasungang akan di blacklist oleh kampung lainnya, sehingga orang dari kampung lainnya tidak akan berani makan atau minum di kampung terduga To Perasungang.

Sampai kini, di beberapa daerah di Mandar, bila kita bermaksud berkunjung ke suatu daerah yang terkenal sebagai kampung To Perasungang, para tetua pasti mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman disana.

Bahkan ada kejadian, bila di kampung To Perasungang ada yang melaksanakan acara pernikahan, undangan dari kampung lain hanya datang membawa passolo (uang sumbangan) tanpa mau mencicipi hidangan dengan alasan sedang berpuasa.

Tak ayal lagi, Misteri To Perasungang menimbulkan keretakan sosial di masyarakat.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

dr. Muhammad Amjad

Dr. Muhammad Amjad, Kepala UGD RSUD Majene menjelaskan seseorang memang bisa memuntahkan darah apabila menelan racun, tapi untuk menentukan apakah seseorang diracun atau tidak harus dilakukan pemeriksaan mendalam.

Menurut Amjad, tidak selamanya muntah darah disebabkan karena seseorang menelan racun. Ada penyakit tertentu yang gejalanya adalah muntah darah, bahkan orang yang terlihat sehat wal afiat bisa saja tiba-tiba muntah darah karena dirinya mengidap penyakit tanpa dia sadari. Biasanya orang baru datang berobat karena muntah darah disebabkan karena terlambatnya diagnosa atau penanganan penyakit tersebut.

Amjad tidak menampik bisa saja seseorang meracun orang lain seperti kasus kopi sianida, tapi Amjad tidak mempercayai adanya racun yang bisa disebabkan oleh mantra sebagaimana anggapan masyarakat.

Apa kata terduga?

Kami mendatangi salah satu tempat yang digosipkan masyarakat pernah menjadi kampung To Perasungang pada zaman dahulu. Tokoh setempat menyatakan banyak kemungkinan yang bisa terjadi, bisa saja itu adalah gosip yang sengaja disebarkan oleh orang yang ingin mengadu domba atau karena rasa iri hati ingin mendiskreditkan pihak tertentu, atau orang yang memang awalnya sudah mengidap penyakit, ketika selesai makan di tempat tertentu penyakitnya kambuh dan menyebabkan kematian, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi bila memang disuatu waktu pada zaman lampau memang pernah terjadi kejadian meracun orang lain dengan sengaja, janganlah karena perbuatan seseorang di dalam kampung yang majemuk, ratusan penduduk kampung yang lain yang tak bersalah turut menjadi korbannya.

Jadi?

Kenyataan adanya orang yang tiba-tiba muntah darah segar tanpa ada gejala sakit sebelumnya bisa jadi mengindikasikan keberadaan To Perasungang di tengah masyarakat adalah sebuah fakta, tapi karena sulitnya pembuktian akan tetap menjadikannya sebuah misteri.

(diskominfomajene)