Satu warga Majene asal Kecamatan Banggae Timur berinisial J, santriwati pesantren di Bogor, terkonfirmasi PDP (Pasien dalam pengawasan) Corona.

Berawal dari pemeriksaan suhu tubuh (screening) yang dilakukan petugas bandara terhadap J ketika pulang dari Bogor menujuĀ  Majene melalui Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, pada Rabu, 25 Maret, sekira pukul 6 sore.

Karena hasil screening menunjukkan suhu tubuh Y diatas 38,5 oC serta mengalami gejala batuk, flu, dan gatal pada tenggorokan, maka tim otorita bandara mengkarantina J sampai pukul 11 malam, selanjutnya dievakuasi menggunakan ambulan ke RS Unhas Makassar untuk pemeriksaan lanjutan.

Dari RS Unhas, rencananya J akan dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo Makassar, tapi karena kemungkinan ruang perawatan penuh, sehingga J tetap dirawat di RS Unhas. Selama perawatan, kondisi J berangsur membaik.

Berbagai pemeriksaan dan tes kesehatan dilakukan terhadap J. Sampai hari Sabtu, sesudah hasil tes radiologi keluar, pihak Rumah Sakit sebetulnya mengharapkan untuk dilakukan perawatan lanjutan, tapi karena banyaknya pasien lain yang kondisinya lebih parah dan juga kondisi J yang membaik, sehingga RS membolehkan J pulang ke Majene.

Baru sampai di Pangkep, pihak RS Wahidin menghubungi keluarga J untuk kembali ke Makassar untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan, tapi karena kondisis psikologis J dan berbagai pertimbangan lain sehingga perjalanan tetap dilanjutkan ke Majene, dengan catatan bila terjadi hal penting agar pihak keluarga J menghubungi pihak Rumah Sakit kembali.

Terkini, J sudah dirujuk ke RS Regional Sulbar di Mamuju untuk dilakukan test lanjutan.

Menurut dr.Rahmat, Kepala Dinkes Majene, biasanya dilakukan 3 kali test Swab untuk dapat menentukan status seseorang apakah positif atau negatif Corona, tapi kewenangan untuk mengumumkan hasil tersebut ada pada pihak Gugus Tugas covid-19 pusat, sehingga apapun hasil pemeriksaan lanjutan dari RS Regional Sulbar, pihak Gugus Tugas Kabupaten Majene tidak memiliki kewenangan untuk mengumumkannya.