Sebanyak 23 komunitas pecinta benda pusaka dengan difasilitasi Dinas Pariwisata Majene megadakan pameran Sossoranna to Mandar dan Pagelaran Seni Budaya di Gedung Assamalewuang, 2-7 November 2019.

Komunitas-komunitas tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia diantaranya dari Jakarta, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.

 

Kegiatan yang dibuka Bupati Majene, Fahmi Massiara tersebut memamerkan ratusan senjata-senjata pusaka warisan leluhur yang dalam bahasa Mandar disebut sossorang.  Jenisnya bermacam-macam seperti keris, parang, pedang, badik, dan tombak.

Dalam sambutannya, bupati mengingatkan bahwa keris telah ditetapkan oleh Unesco sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2013, sehingga harus dilestarikan dengan baik.

“Setiap memperingati hari jadi Majene tanggal 15 Agustus, selalu diadakan pembersihan benda pusaka dalam acara massossor to manurung sebagai bukti bahwa kami memahami arti dan pentingnya pusaka dan perwujudan dalam memelihara warisan budaya dunia secara aktif,” kata Fahmi Massiara.

Sossorang yang dipamerkan telah berusia ratusan tahun, ditampilkan dalam etalase-etalase kaca berdasarkan komunitas yang memiliki pusaka tersebut. Meskipun jenisnya beragam, pusaka-pusaka tersebut memiliki kesamaan yaitu kesemuanya memiliki corak khas senjata tua pada bilahnya, yang dalam bahasa Mandar disebut ura’.

Corak dari pusaka beragam berdasarkan jenis besi dan teknik pengolahan dan kepiawaian Sang Pande dalam menciptakan senjata. Memperhatikan detail dan mencium aroma purba dari pusaka terkadang mampu untuk membuat kita merinding, di dalamnya terkandung kearifan dan ketinggian budaya para leluhur. Disamping itu, karena pusaka tersebut dibuat khusus sebagai senjata, tentu telah banyak sejarah yang terjadi mengiringi perjalanan panjangnya.

Atas terselenggaranya pameran, panitia pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Majene.

“Komunitas penggemar pusaka dari Mandar sering mendapat undangan dari daerah lain, karena itu kami berjuang selama 4 tahun agar pameran ini juga dapat terlaksana di Mandar, dan Majenelah yang merespon dengan cepat sehingga pameran ini dapat terlaksana dengan baik,” kata panitia.

Selain pameran pusaka, dalam kegiatan tersebut juga ditampilkan tarian tradisional, pertunjukan silat, dan pembersihan pusaka, disamping itu, bagi anda yang bermaksud memiliki senjata tajam antik, dapat melakukan transaksi di pintu masuk gedung pameran dengan beberapa komunitas dan pedagang, atau anda bisa menunggu lelang yang biasanya diasakan menjelang penutupan pameran.

(diskominfgomajene)