Pembibitan kambing unggul jenis PE (Peranakan Etawa) Kepala Hitam dari Kaligesing di UPTD Pembibitan Ternak dan Pakan, Desa Tinambung, Kecamatan Pamboang, terkendala ketersersediaan pakan, akibatnya sekitar 60 ekor kambing di UPTD kondisinya cukup miris dan memprihatinkan.

Kambing PE yang ada di UPTD yang terbentuk tahun 2016 itu merupakan pengadaan Pemprov Sulawesi Barat pada tahun 2017 dengan anggaran dari Kementerian Pertanian RI. Awalnya jumlah kambing yang didatangkan dari Jawa Tengah sebanyak 200 ekor, 50 Jantan 150 Betina, tapi karena berbagai faktor, kini hanya tersisa kurang lebih setengahnya.

Kondisi kambing di UPTD, gigi kambing yang sudah keluar merupakan salah satu tanda kambing sudah tua

Selain faktor utama berupa kekurangan pakan, faktor lain yang menyebabkan kematian kambing yaitu proses transportasi dari Jawa ke Majene memakan waktu yang cukup lama sekitar 2 minggu, sehingga banyak kambing yang stress, disamping itu perbedaan iklim asal kambing di Jawa yang lebih dingin dibandingkan di Majene yang lebih hangat juga menjadi penyebab kambing stress, ditambah kondisi kambing yang didatangkan kurang sesuai harapan dimana sebagian kambing sudah berusia agak tua.

“Sebetulnya kurang sesuai harapan, tapi karena demikian kondisinya dari provinsi, dan kami tidak berwewenang untuk mempertanyakan lebih jauh,” kata Abdul Hafid, Kepala UPTD.

Gedung dan kandang kambing yang ada di UPTD. Kandang terbuat dari kayu Ulin

Menurut Abdul Hafid, Kambing PE Kepala Hitam memiliki keunggulan, berupa badannya lebih besar dengan produksi susu lebih banyak, sehingga selain dagingnya kambing PE juga bisa dijadikan kambing perah.

Mensiasati kelangkaan pakan di UPTD, pihak UPTD sudah menyalurkan sekitar 40 ekor kambing kepada lebih dari 20 peternak dengan sistem bagi hasil, yaitu dalam waktu 3 Tahun peternak disyaratkan memberikan 2 anak kambing.

“Nanti kalau UPTD sudah mampu menyediakan pakan yang cukup baru kita lakukan penarikan indukan karena itu merupakan aset UPTD,” kata Abdul Hafid.

Ridwan, pegawai UPTD menjelaskan pembuatan konsentrat

Abdul Hafid mengakui, kambing yang disalurkan kepada peternak kondisinya lebih baik dari pada yang berada di UPTD karena pakannya lebih tercukupi.

Selain itu, UPTD juga membeli pakan dari masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan pakan kambing.

“Lahan yang ada di UPTD tidak mencukupi untuk peyediaan pakan sehingga kami membeli dari masyarakat sekitar, disamping itu kami juga mengusahakan penambahan lahan dan sudah ada pembebasan lahan seluas 2 Ha di Monge Are, 5 Km dari sini,” Jelas Abdul Hafid.

“Tahun 2020 akan ada lagi pembebasan lahan, sebetulnya dulu ada lahan yang dibebaskan di Mage, tapi kemudian diserahkan ke Politeknik,” tambahnya.

Indigofera, salah satu pakan yang dikembangkan di UPTD Pembibitan Ternak dan Pakan Pamboang

Beberapa pakan yang dikenbangkan di UPTD Pembibitan Ternak dan Pakan Pamboang diantaranya Indigofera, Gamal, Rumput Gajah, dan Rumput Odot.

Di UPTD juga terdapat fasilitas mesin cacah untuk mencacah pakan kambing sehingga lebih mudah dicampurkan dengan sumber pakan lainnya seperti dedak, dengan dicacah pemberian pakan dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

Mesin penghancur kotoran ternak

Selain mesin cacah, terdapat juga mesin penghancur kotoran ternak untuk dijadikan pupuk kandang. Kotoran kambing awalnya dikeringkan dulu selama 1 hari, setelah itu disimpan di dalam gudang, bila ada permintaan pupuk kandang, barulah kotoran kambing dihancurkan. Biasanya yang menggunakan pupuk kandang ini adalah petani bawang, dan dijual seharga 10 Ribu Rupiah per karung.

Untuk bisa memelihara kambing dengan sistem bagi hasil, peternak harus mengajukan permohonan kepada Bupati Majene dan memiliki ketersediaan pakan yang mencukupi.

“Tapi untuk saat ini, penyaluran mungkin belum bisa dilakukan karena di UPTD hanya tersisa sekitar 60 ekor Kambing,” tutup Abdul Hafid.

(diskominfomajene)