Museum Majene, Jendela Budaya dan Tradisi Mandar

Petugas museum di depan gedung

Terlihat tua namun artistik, itulah kesan pertama ketika kita mengamati Museum Mandar Majene, nuansa kolonial begitu melekat pada bangunan ini, tak heran, gedung ini memang sejatinya dibangun oleh Belanda beberapa dekade sebelum kemerdekaan dan difungsikan sebagai rumah sakit. Berdiri di atas bukit di jalan Raden Soeradi, kelurahan Pangali-Ali, kecamatan Banggae, pemilihan lokasinya oleh Belanda sangat tepat, karena dari sini, pemandangan teluk Majene disertai hembusan angin terasa indah dan menyejukkan, sangat cocok bagi pasien dan keluarganya yang membutuhkan kedamaian.

Patung kepala

Memasuki museum, kita akan disambut koleksi-koleksi yang dikelompokkan dalam beberapa ruangan. Diruangan pertama, kita disuguhi pakain pengantin Mara’dia (Raja) dan bangsawan adat atau Topia, dari deskripsi singkat yang tertera, kita dapat mengetahui bahwa ternyata pada zaman kerajaan, pengantin tidak boleh sembarangan memilih pakaian pengantin tapi harus disesuaikan dengan status sosialnya. Diruangan ini juga terdapat koleksi alat musik tradisional Mandar seperti ganrang, sattung, kanjilo, dan koleksi alat permainan tradisional seperti gasing dan pakkaracangang.

Silsilah raja-raja Balanipa Mandar

Berbelok ke sayap kiri bangunan, kita dapat menemukan struktur kerajaan Pamboang, Sendana, Banggae, dan silsilah raja-raja Balanipa Mandar, dari raja pertama I Manyambungi atau yang lebih dikenal sebagai Todzilaling sampai raja ke-53 I Puang Monda’. Selain itu juga terpampang peta dimana kita bisa menemukan semua situs yang termasuk ke dalam cagar budaya sekaligus tempatnya pada peta kabupaten Majene. Deretan foto Bupati Majene, Ketua DPRD Majene, dan gubernur Sulawesi dari masa ke masa juga menghiasi dinding ruangan ini.

Cakkuriri, Panji kebesaran kerajaan Sendana

Di lorong, berhadapan dengan ruangan yang menyimpan tong besar fasilitas sterilisasi alat medis, terdapat ruangan yang menyimpan koleksi replika 3 panji kebesaran, yaitu I Macan dari kerajaan Banggae, I Naga dari kerajaan Pamboang, dan Cakkuriri dari kerajaan Sendana.

Nuansa rumah sakit dibiarkan terjaga

Di ruangan di ujung lorong, nuansa rumah sakit sangat terasa, lampu besar untuk keperluan operasi dibiarkan menggantung di tengah ruangan yang kosong, sepertinya ruangan ini memang sengaja didedikasikan untuk mengenang keberadaan rumah sakit zaman kolonial ini, terbukti dari foto-foto hitam putih dari tahun 1926 sampai 1935 yang menempel di dindingnya semuanya menggambarkan suasana dan kegiatan dari rumah sakit ini.

Sarkofagus (peti mayat) dari kayu

Masih ada 4 ruangan yang tersisa di bangunan sebelah kiri ini yang sayang untuk dilewatkan, beberapa koleksi unik tersimpan di sini, diantaranya patung batu berbentuk kepala manusia, 3 ‘cincin’ yang berukuran raksasa, dan wadah mayat atau sarkofagus yang terbuat dari kayu.

Kapak batu

Beralih ke sayap kanan gedung, diruangan pertama, khazanah pengetahuan budaya kita akan bertambah dengan koleksi corak (sure’) sarung Mandar, ternyata corak sarung Mandar mempunyai peruntukan sendiri-sendiri, khusus untuk raja ada sure’ mara’dia dan untuk bangsawan ada sure’ padada. Disini juga kita mengetahui bahwa pada zaman kerajaan dahulu, baju yang dikenakan wanita yang telah bersuami dan gadis juga berbeda, baju untuk wanita bersuami disebut baju boko sedangkan untuk gadis disebut baju pokko, jadi waktu itu, tanpa perlu bertanya kita langsung dapat mengetahui status seorang wanita hanya melihat dari baju yang dikenakannya

Perbedaan baju wanita bersuami (kiri) dan gadis (kanan)

Di gedung bagian kanan ini kita diajak untuk lebih mengenal budaya dan tradisi mandar, selain kode berpakaian, kita juga menemukan miniatur rumah daerah yang cukup lengkap, dari rumah raja, bangsawan, sampai rumah masyarakat biasa, Semua jenis perkakas tradisional yang digunakan oleh orang-orang Mandar dalam kesehariannya juga tersaji lengkap, mulai dari alat tenun, alat dapur, perkakas pertanian dan nelayan, senjata tradisional, sampai perlengkapan prosesi upacara dan perhiasan.

Koleksi ular sawah yang telah diawetkan

Tak ketinggalan diujung ruangan, seekor ular sawah besar yang telah diawetkan sepanjang sekitar 8 meter senantiasa sabar menanti kunjungan anda.

Facebook
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *