Ulumanda, salah satu desa paling terisolir di Kabupaten Majene yang terletak di Kecamatan Ulumanda.

Ulumanda terdiri dari 2 kata Ulu yang berarti kepala dan Manda yang merujuk kepada Mandar, secara harfiah berarti Hulu dari Mandar, sungai yang menjadi sumber kehidupan dan mewarnai budaya penduduk di sepanjang alirannya, mengalir sekira 100 km dan bermuara di Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar.

Petunjuk arah ke Ulumanda

Ulumanda mungkin sudah sering kita dengar dan simpangan menuju kesana mungkin sering kita lihat kalau kita melakukan perjalanan ke Mamuju, mungkin semua akan terlihat dan terasa biasa saja, sampai terdengar sebuah kalimat bernada candaan bahwa kalau ke Ulumanda mengendarai motor matic, tali vambelt motor akan putus sebanyak 2 kali sebelum sampai kesana. Ungkapan seperti ini, pasti akan menggelitik jiwa siapapun yang mengalir DNA petualang dalam darahnya.

Untuk sampai ke Ulumanda, dari Majene kita harus berkendara sejauh 79 Km ke arah Mamuju menuju ke Tabojo, dari sinilah persimpangan ke Ulumanda berada.

Persimpangan ke Ulumanda

Bagi yang baru pertama kali ke Ulumanda, terutama dengan mengendarai motor matic, melihat simpangan dengan jalan yang sementara disemenisasi dengan latar pegunungan berhutan lebat, dengan awan hitam bergelayut di angkasa pertanda hujan mendekat, ditambah teringat dengan candaan vambelt putus 2 kali, pasti akan membuat rider berhenti sejenak, menghela nafas, berfikir ulang dan mengumpulkan seluruh kenekatan untuk mendaki jalan tersebut. Tapi setelah rasa penasaran mengusir segala keraguan, dan ban mulai menapaki jalan tersebut, kita akan disuguhi pemandangan yang cukup untuk menghapuskan kerisauan. Bentangan hutan di kejauhan berbaur dengan tanaman perkebunan seperti kemiri, kakao, cengkeh, dan durian di sepanjang jalan.

Salah satu sudut di Desa Kabiraan

Setelah menempuh jalan dengan kondisi cukup baik sejauh 8 kilometer, kita akan sampai di pusat Kecamatan Malunda, di Desa Kabiraan. Disini terdapat kantor camat, kantor KUA, Puskesmas, SMP, dan SMK Pertanian.

Kantor Camat Ulumanda

Warga sekitar menyatakan bahwa kondisi jalan yang sudah cukup baik ke Kabiraan baru berlangsung sekitar 1 tahun yang lalu sejak perbaikan dimulai, sebelum itu, kondisi jalan sangat memprihatinkan, tak jarang motor harus bermandi lumpur melewatinya, bahkan kadang ban mobil meskipun sudah berhenti karena direm, tetap merosot akibat jalan licin berlumpur. Dari kondisi jalan yang terdapat lapisan aspal yang terkupas di banyak titik, dapat disimpulkan bahwa jalan menuju Desa Kabiraan sebagai pusat kecamatan sudah seringkali dilakukan perbaikan, dan terkini, perbaikan dilakukan tidak lagi dengan aspal, tapi dengan semenisasi.

Perjalanan ke Ulumanda, Hanya untuk Motor dan Rider yang “Laki”

Sempat terbetik rasa bangga dalam hati karena merasa telah sampai di Ulumanda tanpa memutuskan vanbelt, sampai bertemu dan berbincang dengan seorang pengendara motor yang beristirahat di sebuah gubuk setelah melewati jembatan di ujung kampung, tepat di bawah tanjakan dengan jalan berbatu besar.

Rupanya orang tersebut mau menuju Desa Ulumanda yang masih berjarak 24 kilometer dari gubuk tersebut, tanjakan ‘nonstop, dengan batu-batu besar yang tersusun membentuk jalan.

Gubuk tempat orang Ulumanda beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan

Dengan tersenyum dia berkata, “Motor matic tidak akan bisa sampai ke Ulumanda, minimal motor bebek lebih bagus trail atau motor yang sudah dimodifikasi, kalo mobil hanya ‘hardtop’ yang bisa naik.”

Tok, kalimatnya seakan menggetok kepala yang sempat bangga, ternyata perjalanan yang disangka telah selesai, ternyata baru bermula dari sini.

Seakan tahu isi hati, dia menambahkan, ”Kalau mau naik ojek, coba cari di Kabiraan, tarifnya 150 Ribu, tapi karena dihitung PP, jadinya 300 Ribu. Kalo berangkat sekarang paling cepat setelah Ashar baru sampai di Ulumanda”

“Di Ulumanda itu, paling susah kalau ada orang mau melahirkan yang perlu di rujuk ke Faskes lebih tinggi, biasanya dipikul rame-rame, atau ada orang Ulumanda yang meninggal di Puskesmas, harus dipikul pulang ke Ulumanda melalui jalan menanjak 24 Kilometer, karena mobil Hardtop tidak mau membawa jenazah,” Jelasnya

Karena sudah berniat, perjalanan menuju Ulumanda akhirnya diteruskan sampai batas dimana motor matic menyerah. Setelah menanjak diatas jalan berbatu besar sejauh 2 Kilometer, di sebuah titik dimana motor tidak bisa maju dan tidak bisa mundur, akhirnya keputusan rasional harus diambil, yaitu kembali.

Pancuran air di pinggir jalan ke Desa Ulumanda, dapat diminum

Potensi Wisata

Dengan segala keterbatasan dan keterisolasian tersebut, Ulumanda menyimpan potensi bagi para pencinta wisata petualangan seperti motor trail, dan arung jeram.

“Pernah ada beberapa turis dari luar negeri yang melakukan wisata mengarungi Sungai Mandar dari hulunya di Ulumanda sampai ke muaranya di di Tinambung,” kata seorang warga Kabiraan.

Tanaman padi Gunung di ladang masyarakat di pinggir jalan

Disamping itu, panorama alam sebagai hulu sungai tentu tak kalah menarik, serta wisata budaya dengan penduduk lokal yang belum terlalu terpapar teknologi, tentu akan menyajikan pengalaman dan wawasan baru bagi para pengunjung.

(diskominfomajene)