Foto : Penampungan TPA Moloku

TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah Moloku di kelurahan Totoli, kecamatan Banggae telah diresmikan Bupati Majene, Fahmi Massiara, 22 Februari 2019. Peresmiannya bertepatan dengan peringatan hari peduli sampah nasional.

TPA seluas total sekitar 4Ha dan menelan anggaran sebesar 15 Miliar itu akan menggantikan TPA Para-parang yang telah digunakan sebelumnya, disamping kapasitasnya sudah penuh, juga untuk menghindari kesan kumuh karena di dekat lokasi TPA Para-parang kini telah berdiri kampus Unsulbar (Universitas Negeri Sulawesi Barat), nantinya TPA Para-parang akan difungsikan sebagai hutan kota.

TPA Moloku berbeda dengan TPA Para-parang dimana TPA Moloku merupakan tempat pemrosesan akhir sedangkan TPA Para-parang hanya merupakan tempat pembuangan akhir. Sampah di TPA Para-parang hanya di buang oleh mobil sampah tanpa proses lanjutan, sementara di TPA Moloku, sampah dikumpulkan di penampungan yang telah dibagi menjadi beberapa ‘sekat’, kemudian dimampatkan menggunakan alat berat, setelah sampai mencapai ketebalan tertentu, kemudian diratakan dengan lapisan pasir atau tanah, diatas lapisan itu diletakkan lagi sampah yang kemudian akan dimampatkan lagi, proses itu terus berulang sampai sekat pertama penuh, kemudian sampah baru akan diletakkan di sekat selanjutnya. Ditargetkan TPA Moloku dapat beroperasi lebih dari sepuluh tahun sampai penampungan terisi penuh oleh sampah. Penampungan merupakan galian sedalam sekitar 6 meter dengan luas sekitar 2Ha, dasarnya dilapisi hamparan batu sebesar kepalan tangan sementara keempat sisinya dicor dengan beton, didalam penampungan, tampak berdiri puluhan pipa yang nantinya direncanakan dijadikan saluran gas metana yang setelah diolah dapat dimamfaatkan sebagaimana gas LPG. Teknologi pemrosesan sampah seperti ini mulai diterapkan di indonesia sejak 2008.

Dalam peresmian itu juga, Kadis LHK Muh Fadlin FK menyampaikan kepada bupati agar TPP petugas kebersihan dapat karena pekerjaan mereka beresiko tinggi terkena berbagai macam penyakit semisal penyakit kulit atau penyakit saluran pernafasan, dan melakukan pekerjaan yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Sementara Fahmi Massiara mengharapkan agar penanganan sampah tidak hanya digantungkan hanya kepada petugas kebersihan tapi dimulai dari pribadi masing-masing untuk bisa mengolah sampah dengan baik, selain itu, sampah juga bisa bernilai ekonomis apabila dikelola dengan tepat.

Dalam  peresmian itu, Dinas LHK juga meluncurkan bank sampah, dimana setiap pegawai Dinas LHK diberikan buku tabungan bank sampah. Cara kerjanya, pegawai akan menyerahkan sampah ke petugas pengumpul yang akan ditimbang dan dicatat beratnya, nantinya setelah terkumpul banyak dari semua pegawai, sampah akan dijual dan uangnya akan dibagikan kepada seluruh pegawai berdasarkan berat sampah yang tertera dalam buku tabungan sampahnya.