Luaor, Dimana Kebanggaan Itu Bermula

“Cahaya merah telah mulai membentang di ufuk barat dan bayangannya tampak mengindahkan wajah lautan yang tenang tak berombak, di sana sini kelihatan layar perahu-perahu telah berkembang, putih dan sabar. Ke pantai, kedengaran suara nyanyian Iloho Gading atau Sio Sayang yang dinyanyikan oleh anak-anak perahu orang Mandar itu, ditingkah oleh suara gesekan rebab dan kecapi”

Paragraf diatas adalah pembuka novel fenomenal “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” karya terbaik sastrawan besar Indonesia, Hamka, berlatar suasana melankolis di pelabuhan Makassar pada suatu senja tahun 1930.

Disebutkannya anak-anak perahu Mandar dalam pembuka novel tersebut memberikan gambaran betapa orang Mandar sejak dahulu sudah terkenal dengan kehidupan baharinya. Pelaut Mandar terkenal dengan keberanian, ketangkasan, dan ketangguhannya menghadapi ombak mengarungi lautan. Namun, semua kebanggaan itu tidak akan pernah wujud menjadi sebuah kisah tanpa adanya perahu atau kapal yang kuat menahan hempasan ganasnya gelombang.

DISINILAH AWALNYA

Ba’durrasi’ mengepulkan asap rokoknya ke udara, sore itu dia duduk bersandar di atas kapal kayu yang sementara dibangunnya, rehat setelah seharian bekerja. Dari jauh sayup dan riuh terdengar suara pemberi komando dan orang-orang yang bergotong royong “mapparawung lopi” (menurunkan ke laut kapal yang telah selesai dibangun). Ditemani beberapa orang rekan kerjanya dia bercerita tentang pembuatan kapal kayu di Luaor.

Mereka tidak mengingat kapan awalnya orang Luaor mulai membuat kapal, sudah turun temurun dari nenek moyang, keahlian mereka tidak diragukan lagi, terbukti, meskipun ada banyak sekali tukang pembuat kapal, tapi itu masih belum cukup untuk melayani banyaknya pesanan, sehingga tukang tidak pernah menganggur, mereka hanya istirahat bila capek atau sakit. Tidak hanya dari Sulawesi Barat, pesanan datang hampir dari seluruh pulau di Indonesia, dari Jawa, Kalimantan, Lombok, Ternate, sampai Papua. Bahkan tahun 2009 pernah ada orang Jepang yang memesan untuk dibuatkan perahu tradisional Mandar “Ulammesa”, seperti gambar perahu di lambang kabupaten Majene. Uniknya, dalam proses pembuatannya disyaratkan tidak boleh menggunakan alat mesin, semua harus alat tradisional dan manual, hingga untuk menebang pohon kayu yang akan dijadikan bahan baku, memakai chainsaw pun tidak di bolehkan. Meskipun tukang mengaku kerepotan karena sudah terbiasa menggunakan alat kerja mesin, tapi pesanan perahu Ulammesa tetap bisa diselesaikan sesuai jadwal.

Konsumen yang sudah pernah memesan kapal di Luaor kebanyakan datang untuk memesan kembali bila mereka memerlukan kapal baru disebabkan mereka merasa puas atas kualitas kapal, meskipun harga sama atau lebih mahal dari kapal buatan di tempat lain. Sebuah kapal kayu umumnya dikerjakan oleh 3 orang tukang dibantu 2 orang helper. Bila dana dari pemesan untuk membeli bahan baku tidak tersendat, kapal bisa diselesaikan dalam waktu 1,5 sampai 3 bulan. Kapal terbesar yang pernah dibuat di Luaor berukuran panjang 30m lebar 8m pesanan dari Gorontalo, sedangkan harga termahal untuk kapal yang pernah dibuat adalah 560 juta Rupiah, harga ini belum termasuk mesin dan alat tangkap ikan yang disediakan sendiri oleh pihak pemesan.

Untuk menjaga kualitas, kayu yang digunakan memang dipilih yang berkualitas, diantaranya Ma,dang, Palapi, Ulin, Pude’, dan kayu berkualitas lain. Kayu Pude’ khusus digunakan untuk rangka rusuk karena karakteristik kayunya yang ulet/liat tapi tetap ringan.

DIBUAT SEPENUH HATI

Dalam membuat kapal juga tidak boleh sembarangan. Tukang kapal Luaor berpedoman pada rasio/perbandingan khusus sebagai acuan baku, bagaimanapun ukuran besar kecilnya kapal, tetap tidak boleh melenceng dari rasio ini, bila tidak, kapal tidak akan berfungsi maksimal.

Detail juga sangat diperhatikan, untuk membuat rangka rusuk misalnya, rusuk kiri harus identik dengan rusuk kanan, bila rusuk kiri mempunyai 1 sambungan rusuk kanan juga harus hanya punya 1 sambungan, jika rusuk kiri 2 sambungan rusuk kanan juga 2 sambungan, dan posisi sambungan kiri dan kanan juga harus sejajar.

Demikian juga dengan sambungan papan dinding kapal harus sempurna, tidak boleh ada celah yang memungkinkan air dari luar bisa merembes masuk kedalam badan kapal, karenanya digunakan pelapis antara sambungan dari bahan terbaik, mereka menggunakan daging pelepah sagu yang disayat tipis 1-2mm sepanjang 4 meter, dalam menyayat bahan pelapis ini diperlukan keterampilan tinggi agar hasil sayatan sama tebal dan tidak terputus sebelum mencapai panjang 4 meter, dengan pelapis jenis ini, dempul tidak perlu lagi digunakan pada sambungan, dempul hanya digunakan pada retakan kayu.

USSUL DAN PEMALI

Disamping itu, dalam pembuatan perahu atau kapal, mereka juga berpatokan kepada “ussul” dan “pemali”. Ussul adalah hal-hal yang sebaiknya dilakukan, sedangkan pemali adalah hal-hal yang harus dihindari, sebagai contoh, bila misalnya dalam melakukan pengeboran kayu mata bor patah, patahan itu harus dikeluarkan dari kayu, tidak boleh dibiarkan tertinggal di dalam badan kapal meskipun tertinggal di tempat yang sempit atau sulit untuk dijangkau, jika dilanggar diyakini akan sering terjadi perkelahian diatas kapal bahkan sampai pertumpahan darah.

Bahkan pernah ada kasus yang sangat membingungkan, dimana kapal yang sudah selesai dibangun ketika mau diparondong, tidak bisa. Sudah ditarik kapal lain, sudah didorong alat berat, bahkan sudah disembelihkan sapi, kapal tetap tidak bergeming, hingga akhirnya yang punya kapal angkat tangan dan seiring waktu akhirnya rusak di tempatnya.

Usaha pembuatan kapal kayu di Luaor yang sudah menjadi tradisi ini membuat pihak desa Bonde merencanakan untuk membuat galangan kapal di sepanjang pantai lokasi pembuatan kapal. Dengan adanya galangan pembuat kapal tidak perlu lagi mengkhawatirkan hempasan ombak di musim bara’ yang bisa merusak kapal yang sedang dalam proses pembuatan. Di samping itu dengan galangan, proses ‘mapparawung lopi’ akan jauh lebih mudah, cukup 5 orang saja untuk menurunkan kapal, sementara tanpa galangan dibutuhkan puluhan sampai ratusan orang untuk bergotong rotong. Hanya saja, bila tradisi gotong royong mapparawung lopi ini punah, kita tidak akan lagi menemukan Ule-ule’ (bubur kacang ijo) Mandar yang terkenal manis dan gurih, yang biasanya disuguhkan setelah prosesi mapparawung lopi.

Facebook
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *