Ku’bur Balanda, Jejak Interaksi Bangsa Asing di Majene

salah satu pusara di makam Belanda

“Disini terbaring, kekasih, bunda, saudari, putri kami tercinta, Anna Ester Inkiriwang, Lahir Manado 7 Januari 1905, Wafat 17 April 1931” 

Demikianlah makna yang tersirat dari prasasti yang tertulis dalam bahasa Belanda yang terpahat pada salah satu pusara batu marmer di kompleks pemakaman yang dikenal warga sekitar sebagai “Ku’bur Balanda”.

Lokasinya berada di lingkungan Timbo-timbo, kelurahan Pangali-ali, kecamatan Banggae. Terletak di atas perbukitan, dari sini terlihat jelas Teluk Banggae sampai Tanjung Dato’, tempat kapal-kapal nelayan berlabuh, sementara di belakang, menjulang tebing batu seakan menjadi dinding penjaga kompleks pekuburan ini.

Terlindung di belakang pemukiman padat penduduk, tiadanya akses kendaraan dan petunjuk lokasi, menjadikan keberadaannya tidak begitu diketahui oleh masyarakat luas.

 

Di sini, diantara pohon pisang dan jagung, terserak puluhan pusara yang rata-rata terbuat dari bata yang diplaster semen. Bentuk dan ukurannya beragam, ada yang berbentuk seperti gapura  yang lebih tinggi dari orang dewasa, ada yang berbentuk seperti peti dengan prasasti di atasnya, ada yang prasastinya berdiri , dan berbagai bentuk dan ukuran lainnya.

 

Demikian juga dengan prasastinya, ada yang terbuat dari batu biasa, ada pula dari marmer yang harganya lebih mahal, bahkan di salah satu pusara ada marmer yang bertanda “Aj Marmi Italiani, Soerabaia” yang kemungkinan merupakan marmer impor dari Italia. Cara penulisannya pun bervariasi, ada yang hanya digoreskan, tapi ada juga yang terkesan timbul dan terlihat mewah, kemungkinan perbedaan bentuk pusara, bahan, dan cara penulisannya dikarenakan perbedaan status sosial dari jenazah.

Bahasa prasasti selain berbahasa Belanda ada juga yang berbahasa Indonesia, ini menandakan bahwa bukan hanya orang Belanda  , tapi pribumi yang kemungkinan merupakan pegawai Belanda yang beragama Kristen juga turut dimakamkan di sini, menilik dari tempat lahir, kebanyakan dari Ambon, Manado, dan Toraja. Menurut cerita turun temurun warga sekitar, selain bangsa asing Belanda, beberapa orang Prancis juga bersemayam di tempat ini.

Kompleks ini bukanlah pekuburan militer tapi merupakan pekuburan umum, karena dari bayi sampai manula, pria dan wanita semua dimakamkan disini. Dari prasasti yang masih dapat terbaca, diketahui kuburan tertua atas nama T. Malada yang wafat tanggal 9 Oktober 1914, tapi karena beberapa prasasti telah rusak tak terbaca, besar kemungkinan banyak makam yang berusia jauh lebih tua.

 

Warga bercerita bahwa dulu kadang ada orang Belanda maupun pribumi yang datang untuk mencari leluhurnya, bahkan beberapa makam sudah pernah dibongkar kemudian dipindahkan ke tempat asal keluarganya di Sulawesi Selatan.

Kini, berbagai kerusakan terlihat pada sebagian makam, seperti plaster terkelupas, prasasti terhapus, prasasti tumbang, pusara miring atau patah karena amblas, bahkan ada yang hancur total hingga hanya tersisa tumpukan batanya saja. Kedutaan Besar Belanda melalui OGS (Oorlogsgravenstichting), yayasan yang memelihara dan mengatur kuburan perang Belanda mengkonfirmasi bahwa mereka memang mencari, mendata dan memelihara kuburan korban perang dari pihak Belanda tapi dalam rentang tahun tertentu yaitu dari tahun 1941 sampai 1950, sehingga diluar tahun tersebut tidak termasuk dalam daftar pemeliharaan mereka.

WhatsApp
Facebook

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *