Keteguhan di Betteng Adolang

Peta perbandingan posisi Pamboang, Betteng, dan dusun Galung

Terik matahari memanggang kepala, cuaca siang itu kering dan panas, Andi Odang berjalan menapaki jalan setapak di lereng bukit yang terkesan gersang menuju lokasi bersejarah Betteng Adolang. Betteng adalah penyebutan lokal untuk Benteng. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari pemukiman penduduk di dusun Galung.  di sepanjang jalan pohon Akasia tumbuh liar, beberapa pohon Kayu Mangiwang juga dapat ditemui dalam perjalanan. Mendekati tujuan, tampak betteng yang dibuat penduduk dari batu yang disusun setinggi lebih dari 1 meter yang berfungsi sebagai pagar untuk melindungi tanaman di ladangnya dari gangguan hama babi.

Betteng pagar kebun yang lebih tinggi tapi tipis

Sampai ditujuan, bayangan awal akan menemukan bangunan benteng tinggi dari batu yang direkatkan, sirnah, yang ada hanyalah batu yang disusun setebal satu meter dengan tinggi tidak sampai pusar, tanpa perekat, tapi meskipun tanpa perekat, cara menumpuk dan berat setiap batu yang disusun tetap menjadikannya cukup kokoh. Awalnya akan timbul keraguan dan tanda tanya apakah betul betteng sependek ini pernah menjadi lokasi pergumulan hidup mati para pejuang, apakah kisah-kisah heroik yang sering diceritakan orang-orang tua hanyalah mitos belaka. Tapi begitu diperhatikan secara seksama, lokasi betteng yang berada di atas tebing yang tinggi dan kontur tanah yang berbukit  adalah rahasia kunci dari efektifitas pertahanan Betteng Adolang.

Betteng pertahanan yang lebih tebal tapi lebih pendek

PERTAHANAN BERLAPIS

Betteng Adolang yang sekilas terlihat meragukan sebenarnya adalah pertahanan 2 lapis. Lokasinya berada di atas tebing setinggi ratusan meter, butuh nyali yang kuat hanya untuk sekedar berdiri di pinggir tebingnya. Memandang ke arah barat daya, terlihat kota pamboang beserta garis pantainya, bila ada orang yang menuju ke betteng, dari jauh akan langsung terlihat dari ketinggian ini. Persis di bawah tebing terdapat jalan setapak, yang pada saat itu, merupakan satu-satunya akses jalan dari Pamboang menuju ke Adolang. Inilah pertahanan lapis pertamanya, bila serdadu Marsose(1) Belanda melintas maka para pejuang akan menjatuhkan batu-batu besar yang telah dijejer di atas tebing. Bila Belanda lolos dari pertahanan lapis pertama ini, mereka akan menemui pertahanan lapis kedua.

Ratusan meter dibawah tebing ini terdapat jalan setapak

Betteng dibangun di sepanjang punggung bukit, membagi bukit menjadi 2 sisi, sisi yang mengarah ke Adolang sebagai tempat pejuang berlindung dan sisi yang mengarah ke Pamboang adalah arah datangnya Belanda bila mereka lolos dari pertahanan lapis pertama. Untuk menuju ke Adolang, Belanda harus mendaki menuju punggung bukit menuju betteng tempat para pejuang berlindung. Disinilah efektifitas Betteng Adolang terlihat, meskipun tingginya hanya di bawah pusar, lokasinya yang berada di ketinggian memungkinkan pejuang untuk berlindung dari serangan musuh sambil melempari musuh dengan batu, tombak, atau senjata lainnya. Inilah pertahanan lapis keduanya, setidaknya, begitulah skenarionya. Tapi semua asumsi itu meleset, hari itu, Belanda tidak pernah melewati tebing batu, apalagi menghadapi pertahanan lapis kedua.

HARI H

Hari Sabtu itu, para pejuang di Betteng bersiap, mengawasi jalan setapak ratusan meter dibawahnya. Sebetulnya hari itu masih tahap persiapan untuk menghadapi serbuan Belanda keesokan harinya. Beberapa hari sebelumnya mereka menerima pesan dari Belanda bahwa serangan akan dilakukakn pada hari Ahad. Tapi pesan itu hanya tipu muslihat, tanpa diketahui para pejuang, para Marsose hari itu diam-diam telah memanjat bukit dari arah Timur menembus hutan belukar kemudian muncul dari sisi bukit arah Adolang. Mereka telah belajar dari pengalaman sebelumnya yaitu bila melewati jalan setapak dibawah tebing maka mereka akan terkena batu yang dijatuhkan pejuang dari atas, karena itu mereka mencari jalan lain. Para pejuang sama sekali tidak menduga kemungkinan yang menjadi kenyataan ini.

Tiba-tiba saja, Belanda muncul dari belakang garis pertahanan pejuang, moncong senapan mereka menyalak, memuntahkan peluru-peluru yang mendesing di udara, para pejuang kaget bukan kepalang, suasana kacau balau, mereka yang bernyali dan teguh dengan sumpah “tuo situoang, mate simateang” (sumpah sehidup semati), mengangkat parang maju menyongsong para Marsose, namun parang, keris, dan sumpit bukanlah tandingan senjata api, tubuh para pejuang terkoyak diterjang peluru, mereka berguguran dan roboh di Betteng Adolang. Keberanian, kesetiaan, harga diri, dan siri’ yang mereka miliki menggema hingga saat ini. Sementara yang lain, yang ciut nyalinya, bergetar mendengar gempita letusan senjata, berhamburan tak tentu arah menyelamatkan diri masing-masing, saking mencekam dan kacaunya suasana saat itu, sampai ada yang lebih memilih melompat dari ketinggian tebing dan mendarat di batu keras dibawahnya. Efek kejut serangan Belanda yang mendadak, sangat berhasil, mereka yang lolos dari betteng bercerita bagaimana telinga terasa bagaikan ‘hilang’ akibat suara letusan senjata.

KALI ADOLANG

Diantara orang yang berlarian dari arah betteng, seorang pria justru berjalan bergegas ke arah Betteng. Perawakannya pendek, namanya Zaban, tapi karena dia adalah seorang Kali (sebutan lokal untuk Qadhi, Penghulu) maka dia lebih dikenal dengan Kali Pocci’ atau Kali Adolang . Dia bertanya keadaan betteng kepada orang yang ditemuinya di jalan yang kemudian menyarankannya untuk kembali dan menyelamatkan diri karena suasana di betteng sangat menakutkan, apalagi Kaco’ Puang Ammana I Pattolawali, sebagai pemimpin pasukan telah gugur, tapi pria itu bergeming, dengan tegas dia berkata “naposiri’ maradia, dipomate ita’, ya’ matemi mara’dia apawandamo tia” (Bila raja malu saja, kita pantas untuk mati, apatah lagi kalau raja sudah gugur) . Seorang anak muda yang menyusulnya mengajaknya untuk kembali saja karena menurutnya di depan hanya kematian yang menanti, tapi dengan teguh sang Kali berkata “Namembali’ ditia tau, ana’, matemi pau” (Bagaimana kita bisa kembali, nak, sementara kata sudah terucap dari bibir), tanpa keraguan sedikitpun sang Kali menuju betteng, namun sayang, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, ketetapan yang telah ditentukan mesti berlaku, sebutir peluru Marsose menghentikan langkahnya, dengan sisa kekuatan dia mengayunkan kerisnya, namun peluru kedua mengantarkannya menghembuskan nafas terakhir. Seorang anak laki-lakinya yang bernama I Lanre, maju menuntut bela atas kematiannya turut gugur hari itu. Kepahlawanan Kali Adolang tertuang dalam syair “Diammotia berena kalinna to Adolang, mate mammusu karana attonganang” (Sungguh beruntung Qadhinya orang Adolang, gugur syahid dalam peperangan membela kebenaran).

I Ta'ba, cucu Kali Adolang (kiri)

AWAL MULA

Peristiwa di atas terjadi antara tahun 1906 atau 1907, tidak diketahui secara pasti tanggalnya karena minimnya rujukan serta perbedaan tanggal antara satu rujukan dengan rujukan lainnya. Saksi sejarah baik yang mengalami langsung maupun mendengar cerita dari orang tuanya juga tidak bisa meyakini kapan waktu kejadiannya, hal ini dapat dimaklumi, karena kebanyakan ‘orang dulu’ memang belum begitu familiar dengan pencatatan waktu.

Kejadian tersebut adalah kelanjutan dari perlawanan rakyat yang tidak setuju dengan kesewenangan dan campur tangan Belanda terhadap sistem kehidupan masyarakat di tanah Mandar. Menurut Andi Saiful Sinrang dalam bukunya Mengenal Mandar Sekilas Lintas, perlawanan diawali dengan serangan Ammana I Wewang dan Ammana I Pattolawali yang berhasil membakar tangsi belanda di Majene. Karena pertimbangan kekuatan yang tidak seimbang, ada sebagian Dewan Adat Majene yang tidak menyetujui perlawanan, sehingga para pejuang memindahkan basis perlawanannya ke Pamboang dimana Arayang dan Dewan Adat Pamboang relatif mendukung gerakan perlawanan. Dukungan ini menjadikan Pamboang menjadi target serangan pasukan darat Marsose Belanda dari Majene dengan dukungan tembakan meriam Kapal Putih Belanda dari arah laut. Para pejuang awalnya ingin bertahan di pantai Pamboang, tapi karena pertimbangan lokasi yang tidak strategis dan untuk menghindari jatuhnya korban sipil, maka Ajuara Arayang Pamboang dan para pejuang memutuskan untuk mundur dan bertahan di Betteng Adolang.

Dalam pertempuran akhir di Betteng Adolang itu, diperkirakan sekitar 40  pejuang gugur, diantara mereka termasuk Ammana I Pattolawali, Kali Adolang, dan Daenna I Hama’ dari Arayang Pamboang. Sedangkan dari pihak Belanda tidak diketahui adanya korban jiwa. Ajuara Arayang Pamboang  mundur ke Sendana yang kemudian ditangkap Belanda dan diasingkan ke Makassar, sedangkan Ammana I Wewang mundur ke Alu yang kemudian ditangkap dan diasingkan ke Belitung. Jenazah Ammana I Pattolawali dibawa ke Alu dan di makamkan disana, sedangkan jenazah Kali Adolang dimakamkan di Adolang.

Pusara Kali Adolang

KINI

Pusara kayu itu terlihat, seakan berjuang untuk bisa tegak berdiri, menyeruak diantara himpitan rumput liar di sekelilingnya, samar tulisannya hampir tidak terbaca, disitu hanya tertulis “ZABAN”. Andai pusara kecil itu mampu berkata, mungkin ia akan bertanya, apakah keberanian, kesetiaan, harga diri, siri’, dan pengorbanan hanya berakhir seperti ini?

Catatan kaki : 

  1. Marsose adalah unit polisi Belanda, selain tugas kepolisian, juga seringkali ditugaskan untuk membantu angkatan perang, anggotanya banyak diambil dari orang pribumi

Narasumber :

  1. I Ta’ba’, cucu Kali Adolang
  2. I Kanne’ Bali, sesepuh dusun Galung

Rujukan :

  1. Mengenal Mandar Sekilas Lintas, tulisan Andi Saiful Sinrang
Facebook
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *