Ka’loli’ adalah salah satu lingkungan dari Kelurahan Tande Timur, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene. Berjarak sekira 1,7 Km dari Jalan Poros Polman-Mamuju, tepat di perbatasan Polman dan Majene.

Bagi orang Mandar, mendengar namanya pasti akan langsung teringat dengan nama salah satu jenis mangga lokal yang bernama sama, mangga ka’loli’, sehingga orang akan mengira bahwa banyak mangga jenis ini yang tumbuh di lingkungan tersebut.

Tentang kesamaan nama ini, Kepala Lingkungan Ka’loli’, Sudirman setengah bercanda berasumsi bahwa mangga jenis tersebut kemungkinan bermula dari Ka’loli’ sebelum menyebar ke daerah lain di Mandar.

Batu yang tikaloli, asal muasal nama lingkungan

Tapi sejatinya penamaan tersebut sama sekali tidak terkait dengan jenis mangga-mangga-an, tetapi berasal dari kata dalam bahasa Mandar, Tika’loli’, yang berarti sesuatu yang jatuh dari ketinggian menggelinding jatuh ke bawah, sementara yang tika’loli di lingkungan tersebut adalah sebongkah batu yang berukuran cukup besar yang kini teronggok ditumbuhi lamtoro di pinggir jalan.

Kawasan Tanpa Rokok

Tahun 2015, Lingkungan berpenduduk 55 KK tersebut ditetapkan sebagai kawasan tanpa rokok, setelah Kepala Lingkungan menyetujui permintaan dari Dinas Kesehatan Majene.

Persimpangan ke Lingkungan Kaloli dan Buttu Samang

Namun bukan berarti masyarakat dipaksa berhenti merokok sama sekali, tapi lebih kepada edukasi dan sosialisasi yang rutin dilakukan oleh Dinas Kesehatan tentang bahaya rokok.

“Bukan dilarang merokok, tapi diarahkan bagaimana meminimalisir bahaya merokok, yaitu merokok di tempat yang benar, seperti tidak boleh merokok di tempat umum, di dekat anak-anak, di dalam mobil angkutan umum. Kalo mau merokok, bisa ke kebun dan merokok sepuasnya disana,” papar Sudirman.

Penetapan kawasan tanpa rokok telah membawa dampak positif di lingkungan Ka’lo’li dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan bahaya rokok.

Sudirman, Kepala Lingkungan Kaloli, berfoto di depan rumahnya

“Sudah ada sekira 10 orang yang berhenti merokok, disamping itu, kalo ditempat lain jumlah perokok bertambah, disini malah berkurang, anak-anak jarang melihat orang merokok, sehingga begitu beranjak dewasa, mereka pun tidak tergoda untuk merokok. Jadi kalo ini berkelanjutan, suatu saat perokok akan habis karena tidak adanya perokok baru, sementara perokok yang lama terus berkurang,” kata Kepala Lingkungan yang berprofesi sebagai pedagang kopra tersebut.

Disamping itu, bagi yang belum bisa berhenti merokok secara total, minimal sudah bisa mengurangi jumlah konsumsi rokok.

“Saya juga merokok tapi belum bisa berhenti total, tapi Alhamdulillah sudah bisa saya kurangi, dari yang biasanya 2 bungkus sehari kini menjadi 1 bungkus saja,” tutup Sudirman.