Reportase Perjalanan Peliput Diskominfo Majene Bersama MTC (Majene Trail Community)

“Ini adalah hal tergila yang pernah kulakukan dalam hidupku dengan sepeda motor,” itulah kesan pertama tatkala ban motor trail honda CRF150 pinjaman dari kordinator SPBU Rangas Majene mulai menapaki tanjakan berbatu lepas dengan sudut kemiringan mendekati 45O dari Tammerodo menuju perbatasan Ulumanda.

Jalur Tammerodo-Ulumanda, Surga Para Pengendara Trail

Anggota MTC melintasi sungai yang menjadi batas Kecamatan Tammerodo-Ulumanda

14 Desember 2019, MTC, perkumpulan pengendara motor trail Majene berangkat menuju Ulumanda dengan 11 motor, selain sudah masuk agenda kegiatan mereka, perjalanan tersebut juga untuk memenuhi undangan Kepala Desa Ulumanda untuk menghadiri maulid nabi yang akan dilaksanakan di desa tersebut.

Sebetulnya ada jalur yang lebih mudah menuju Ulumanda yaitu melalui Kabiraan, pusat Kecamatan Ulumanda dimana Kantor Camat berada, meskipun jalur ini tetap menakutkan bagi yang tidak terbiasa melalui jalan offroad, tapi tidak se-extrim jalur Tammerodo-Ulumanda.

Tapi rombongan MTC lebih memilih jalur Tammerodo-Ulumanda dengan pertimbangan selain secara jarak yang lebih dekat, ban motor trail juga kurang cocok untuk melalui jalan beraspal, karena bila menempuh jalur Kabiraan, mereka harus melalui jalan beraspal lebih jauh menuju Kecamatan Ulumanda.

 

Perjalanan bermula dari Banggae pada pukul 10:45 dengan target ashar sudah sampai di Ulumanda, tapi kondisi jalan yang menantang mengharuskan target molor dari jadwal sehingga baru menjelang isya rombongan MTC tiba di tujuan. Anggota MTC yang sudah berpengalaman melewati medan offroadpun harus jatuh bangun melewati jalur ini.

Diperlukan kondisi fisik prima, bekal makanan cukup, dan peralatan perbaikan ringan untuk melalui jalur ini, disamping itu yang tak kalah penting adalah kewaspadaan dan kehati-hatian, dan diatas segalanya adalah do’a. Sedikitnya 2 anggota MTC hampir terjatuh ke dalam jurang, salah satu anggota MTC sempat terjatuh tapi terselamatkan karena tersangkut pada batang pohon yang tumbang di pinggir jurang, dan lainnya hampir menumpukan kakinya pada udara dengan jurang di bawahnya ketika melalui belokan di sebuah tanjakan.

Babinsa Ulumanda Koptu Suryanto berusaha melewati medan offroad

Jalur Tammerodo-Ulumanda memang bukan jalan yang lazim dilalui oleh masyarakat, hanya orang tertentu pada cuaca yang bagus dan kepentingan yang mendesak yang melewati jalur ini.

Satu hal yang cukup mencengangkan adalah ketika kami sampai di Dusun Udung Lemo Desa Panggalo Kecamatan Ulumanda yang merupakan desa yang pertama dilalui, ketika melihat motor yang dipakai warga untuk melintasi jalur tersebut hanya motor bebek biasa dengan rem belakang yang sengaja dilepas, karena bila tidak dilepas, pedal rem tromol tersebut akan tersangkut pada kontur jalan tak rata. Kami yang menggunakan motor khusus harus jatuh bangun, sementara mereka menggunakan motor bebek, tanpa rem belakang.

Tapi semua terbayar, kepuasan yang tak tergambarkan ketika berhasil melewati semua rintangan, segala rintangan yang dilalui tak membuat jera, tapi justru memunculkan rasa ingin mencoba lagi. Kepuasan yang hanya bisa dirasakan ketika melintasi tanjakan panjang meniti punggung bukit dengan hamparan padi gunung di kanan kiri jalan dengan beberapa gubuk penjaga tanaman padi mereka dari hama, menyaksikan keindahan dari ketinggian, tanpa halangan, dengan hembusan semilir angin sore, mendengarkan bunyi daun padi saling bergesakan menari tertiup angin.

Rombongan tiba di Udung Lemo menjelang pukul 4 sore, Babinsa Ulumanda Koptu Suryanto sebagai ketua rombongan memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu beberapa anggota yang tertinggal di belakang karena motornya memerlukan perbaikan ringan.

Di Udung Lemo kami merasakan ketulusan masyarakat dan khususnya pak Sukarman yang langsung menjamu kami dengan kopi dan menahan kami untuk makan terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan, satu hal yang sangat kami butuhkan karena terakhir kami hanya sarapan pagi sebelum berangkat dari Banggae. Menu nasi putih, mie instan sebagai sayur, dan potongan ikan asin adalah hal yang terbaik yang bisa mereka usahakan, dan merupakan hal terbaik yang bisa kami rasakan dalam kondisi lapar selepas dari hutan. Mungkin terdengar sederhana, tapi ketulusan dibaliknya, tak bisa dihargai dengan materi.

Warga Udung Lemo yang menjamu kami

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan menuju Dusun Paku, Desa Tandeallo dimana Kedes Ulumanda, Hardi Pu’ding telan menunggu. Sekali lagi kami melewati keindahan yang harus pembaca saksikan, Dusun Taukong, memiliki panorama yang mirip dengan Toraja, dengan sawah terasering di kanan kiri jalan beraspal yang berliku. Taukong berpenduduk paling ramai dibandingkan tempat lain di pegunungan Ulumanda, jalanan disini diaspal oleh Kementerian Transmigrasi karena disini terdapat pemukiman transmigran.

Mutiara Islam di Tengah Rimba.

Kami sampai di Paku sekira maghrib dan bersama Kades melanjutkan perjalanan menuju tujuan di rumah Kades di dusun Lemo-lemo. Sesudah maghrib kami tiba di Dusun Seppong, pusat Desa Ulumanda. Di masjid Sepponglah maulid akan dilaksanakan keesokan harinya.

Kami menyaksikan ramai orang di depan masjid berpakaian jubah, awalnya saya berfikir nuansa ini mungkin berkaitan dengan maulid yang akan dilaksanakan keesokan harinya, tapi begitu kami melanjutkan perjalanan dan sampai di rumah Kades di Dusun Lemo-lemo, pemandangan yang sama kami dapati.

Rasa penasaran mendorong saya untuk bertanya kepada Pak Kades dan saya mendapatkan penjelasan bahwa disini, terutama di dusun Seppong, Lemo-lemo, Popenga, dan Urekang, hampir 100% kaum pria selalu melaksanakan shalat 5 waktu berjamaah di masjid. Saya betul-betul kagum dengan penjelasan itu. Nuansa keagamaan yang begitu kental memaksa saya untuk mandi meskipun menggigil dengan air dingin di pegunungan karena bermaksud untuk ikut berjamaah shalat isya di Masjid Lemo-lemo.

Shalat isya di masjid Lemo-lemo

Selepas shalat saya mendapatkan penjelasan bahwa semua ini berkat jasa para jamaah tabligh yang datang kesini sekira tahun 2000-an.

“Sebelumnya kami sangat jahil, tapi jamaah tabligh yang datang ke desa kami memperkenalkan kami kepada hidayah,” kata Kades Ulumanda, Hardi Pu’ding.

“Dahulu sebelum bergabung ke jamaah tabligh, kami bekerja banting tulang, pergi gelap pulang gelap, tapi hasilnya selalu kurang tidak mencukupi kebutuhan kami, beras saja selalu kami datangkan dari Malunda, kami selalu kekurangan,” kisahnya.

“Tapi sejak kami melaksanakan tuntunan hidup menurut yang dicontohkan Rasulullah, entah ada hubungan atau tidak, kini semuanya tercukupi, meskipun kami bekerja secara santai,” lanjutnya.

“Kini, kami mulai ke ladang pagi setelah shalat subuh, pukul 11 siang kami sudah pulang karena kami akan bersiap untuk shalat dzuhur, setelah dzuhur, kami istirahat siang sampai shalat ashar, setelahnya kami bersantai dengan berbagai aktifitas seperti olahraga maupun hanya mengobrol santai, jadi jam kerja kami hanya dari pagi sampai pukul 11 saja,” jelasnya.

Gadis Ulumanda banyak yang bercadar

“Tapi anehnya, semua kebutuhan kami tercukupi, hasil panen padi kami selalu berlebih tidak habis kami makan, bahkan kini kami selalu menjual beras kami ke Ulumanda, bahkan masih ada sisanya,” katanya sambil menunjukkan berkarung-karung gabah yang ia simpan di rumahnya.

Bahkan menurutnya Kapolda Sulbar sudah 2 kali datang ke desanya, disamping karena hal lain juga karena terkesan dengan suasana keagamaan disini.

“Sudah dua kali Kapolda Sulbar datang, saya sendiri yang selalu memboncengnya naik kesini,” katanya.

Ulumanda

Nama yang dilekatkan kepadanya, ulumanda merupakan tempat keberadaan hulu dari Sungai Mandar yang mengalir sekira 100Km dan bermuara di Tinambung. Ditemani beberapa warga kami menuju ke lokasi untuk melihat langsung hulu sungai tersebut. Sesampai disana, ternyata bukan air terjun spektakuler atau danau raksasa yang kami dapati, tapi hanya berupa kolam yang luasnya tak seberapa yang tertutup tumbuhan air dikelilingi kebun kakao dan ladang padi milik warga.

Hulu Sungai Mandar

Satu hal yang menimbulkan keprihatinan adalah bila pohon-pohon besar yang menampung air di hulu sungai ini makin habis ditebang untuk tujuan komersial, bukan hal yang mustahil sungai yang padanya melekat nama suku di Sulbar ini akan tinggal cerita indah pengantar tidur, sebagaimana kali-kali kecil yang banyak kita temui sudah meranggas kehabisan air.

Kurangnya Kesadaran Masyaraakat

Disamping penebangan pohon, hal yang mengkhawatirkan lainnya adalah perburuan satwa terancam punah endemik pulau Sulawesi, Anoa yang dalam bahasa setempat disebut Tokata. Bagai buah simalakama, disatu sisi Anoa adalah hewan terancam punah sementara di sisi lain, menangkap anoa bisa menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar, baik untuk dimakan dagingnya, tengkorak kepala beserta tanduknya yang dijual sebagai hiasan, maupun dijual dalam keadaan hidup.

Anoa tertangkap warga

Membeli Anoa dalam keadaan hidup mungkin solusi instan terbaik saat ini yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan hidup sang Anoa, karena bila tidak nasib binatang dilindungi itu akan berakhir dalam panci untuk disantap. Jadi meski membelinya mungkin satu pelanggaran, tapi untuk saat ini dimana pengawasan masih sangat minim dan tingkat kesadaran masyarakat yang masih sangat rendah, membeli Anoa hidup untuk dipelihara dan bila mungkin dikembang biakkan mungkin adalah solusi instan terbaik.