Ditengah maraknya berbagai jenis kuliner yang terus bermunculan, minat masyarakat Mandar terhadap makanan tradisionalnya hingga kini masih terjaga, salah satunya adalah jepa, kuliner khas Mandar berbahan dasar singkong atau sagu.

Awal abad ke-20, ketika di Mandar areal persawahan irigasi masih sangat minim, beras hanya dihasilkan dari sawah tadah hujan atau padi gunung, sehingga ketersediaan beras sangat terbatas. Untuk mendapatkan beras secara murah, orang-orang Mandar umumnya harus pergi ke daerah Bugis yang areal persawahannya lebih luas untuk memanen padi dengan upah kerja berupa gabah. Dalam masa keterbatasan tersebut, jepa memegang peranan penting sebagai makanan pokok utama bagi sebagian besar penduduk di daerah Mandar.

Singkong, bahan dasar jepa

Tetap Eksis di Pasar Majene

Di sudut pasar Majene, dihadapan sebuah lorong sempit yang terkadang dilintasi becak mengangkut barang yang akan dijual pedagang, Hasanah, yang oleh sesama pedagang lebih dikenal dengan panggilan Kindo’ Usman duduk dihadapan 2 tungku berbahan bakar kayu, satu untuk memanggang jepa, satunya untuk memasak ikan teri yang dicampur parutan kelapa setengah tua. Rutinitas membuat jepa untuk dijual itu sudah rutin dijalaninya selama lebih dari 20 Tahun.

Kindo Usman mengaduk masakan lauk ikan teri kelapa

Di lapak Kindo’ Usman, tidak ada tempat khusus bagi pembeli yang ingin makan di tempat, karena disamping tempatnya sempit, kebanyakan pembeli jepa membungkusnya untuk dimakan di rumah, tapi bila ingin makan di tempat, kita harus mendapatkan tempat yang bisa diduduki di sela-sela kios pedagang. Harga jepa yang dijual juga cukup terjangkau rata-rata dengan uang 5 sampai 10 Ribu Rupiah kita sudah bisa menikmati jepa beserta dengan lauknya, umumnya menggunakan ikan teri dicampur parutan kelapa, tapi dibeberapa lapak jepa yang lain terkadang juga dapat kita temukan lauk ikan terbang basah yang digarami lalu dibakar di atas bara.

Maimunah, membalik jepa dalam panggangan

Di Pasar Majene, ada beberapa orang yang berprofesi sama dengan Kindo’ Usman sebagai Penjual Jepa. Maimunah, penjual jepa yang lain, menghabiskan 10 liter singkong parut yang dia beli seharga 4 ribu per liter untuk diolah menjadi jepa. Ada 2 jenis jepa yang biasanya dijual di Pasar Majene, ada yang berbahan parutan singkong saja dan ada pula yang dicampur dengan parutan kelapa yang berbentuk lebih tebal. Minat masyarakat Majene terhadap jepa tidak pernah berkurang, terbukti Maimunah sudah menjalani pekerjaannya sejak anaknya masih SD, kini Maimunah sudah memiliki cucu berusia 17 Tahun dari anaknya tersebut. Hasil dari menjual jepa cukup membantu suaminya yang berprofesi sebagai tukang becak berpenghasilan 20 sampai 30 ribu per hari untuk menyekolahkan anak-anak dan kini cucu-cucu mereka.

(diskominfomajene)