MAJENE – Tradisi saeyyang pattu’du’ (Kuda Menari) merupakan pertunjukkan tradisi  masyarakat Mandar yang diselenggarakan sebagai penghargaan tertinggi bagi seseorang yang telah khatam Alqur’an.

Penunggang kuda penari diarak keliling kampung diiringi tabuhan musik rebana dan untaian pantun berbahasa Mandar (Kalinda’da’), diapit beberapa pendamping (Passarung) untuk menjaga keseimbangan penunggang.

Melestarikan dan memeriahkan tradisi tersebut, Pemkab Majene berencana menggelar festival saeyyang pattu’du terbesar pada peringatan hari jadi Majene (HJM) dan hari ulang tahun (HUT) ) Proklamasi RI mendatang, dengan pesertanya termasuk Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda serta diikuti para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seluruh camat, kades dan lurah yang akan di undang di tingkat kabupaten.

Hal itu  disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Majene Rustam Rauf pada kegiatan Messawwe Totamma’ SD-MI se-Kecamatan Tammero’do yang di pusatkan di Lapangan Samaturu Pellattoang Sendana, Rabu (29/06/2022).

“Ini ide langsung dari Bupati, untuk itu kita berharap mulai sekarang seluruh pihak mulai mempersiapkan diri, dengan mencari kuda terbaik, pakkalinda’, dan parrawana,” pinta Rustam Rauf.

Kegiatan Messawwe Totamma’ SD-MI se-Kecamatan Tammero’do turut dihadiri Bupati, Anggota DPRD, Kapolsek Sendana, Danramil Sendana, para Kades, para Kepala sekolah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat se-Kecamatan Sendana.