Gugus tugas penanganan stunting Kabupaten Majene mengadakan monitoring dan evaluasi (monev) pencegahan dan penanganan stunting dengan mengundang 14 desa lokus stunting beserta OPD-OPD yang terkait dalam penanganan stunting. Monev dibuka Plt. Bupati Lukman digelar selama 3 hari 21-23 Desember 2020 di LPMP Sulbar.

Pada hari pertama digelar pameran inovasi desa sehubungan dengan penanganan stunting diikuti 14 desa lokus. Disamping menampilkan data dan statistik kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan desa lokus dalam penanganan stunting, beberapa stand desa juga menampilkan beberapa inovasi produk yang dianggap berperan dalam penanganan stunting.

Salah satu stand desa yang menampilkan produk inovasi penanganan stunting

Hari kedua, kepala desa-desa lokus stunting akan memaparkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan desa dalam penanganan stunting, paparan tersebut didalami oleh 12 orang panelis dari OPD-OPD terkait yang selanjutnya akan memberikan masukan bagi desa. sebaliknya di hari ketiga, giliran OPD-OPD terkait yang mereview kinerja mereka dengan memaparkan apa yang telah dilakukan dan rencana penanganan stunting, sedangkan pihak desa lokus menanggapi dengan memberikan masukan sesuai pengalaman mereka di lapangan.

Dengan Monev dapat diketahui apakah penanganan stunting sudah dilakukan secara maksimal atau masih ada kelemahan yang perlu dibenahi, sekaligus mengarahkan desa-desa lokus agar dapat memilah kegiatan penanganan stunting sehingga dana desa yang dipakai untuk membiayai kegiatan dapat digunakan secara efektif.
Monev dilaksanakan 3 kali dalam setahun. Pada monev pertama dan kedua OPD-OPD terkait mengunjungi desa-desa lokus, sedangkan pada monev ketiga, desa-desa lokus dikumpulkan untuk memaparkan progres yang telah dilakukan sehingga desa-desa lokus dapat saling berbagi pengalaman menangani stunting di wilayah masing-masing.

2 anggota gugus tugas penanganan stunting menjelaskan tentang stunting

Desa lokus sendiri selama ini ditentukan berdasarkan tingginya presentase kasus stunting di suatu desa, tapi menurut Hj. Wirdaningsih, anggota gugus tugas penanganan stunting Majene sekaligus panelis, untuk tahun 2021, penentuan desa lokus tidak lagi sebatas presentase stunting, tapi juga berdasarkan jumlah kasus riil stunting di suatu desa, jadi meskipun presentase kasus stunting rendah, tapi jika jumlah kasus stuntingnya cukup banyak, maka desa tersebut akan menjadi desa lokus stunting.

Masih menurut Wirdaningsih, indikasi utama stunting yang gampang diamati adalah tinggi badan yang tidak ideal dengan usia anak, yaitu anak usia 1 tahun minimal tinggi badannya 75cm, 2 tahun 85cm, 4 tahun 95cm, dan 5 tahun 105 cm, bila dibawah ukuran tersebut, dapat dipastikan pertumbuhan anak tidak sesuai usianya.

Kasus stunting di Majene cukup tinggi, menduduki peringkat kedua terburuk se-Sulbar di bawah Mamasa, dari 100 anak di Majene 35 diantaranya menderita stunting.