Ratusan santri dari 13 pondok pesantren (ponpes), murid madrasah Aliyah, Tsanawiyah, dan Murid kelas 5 dan 6 Ibtidaiyah se-Majene memperingati Hari Santri Nasional di Pendopo Rujab Bupati Majene, 22 Oktober 2019. Peringatan hari santri setiap tanggal 22 Oktober untuk tahun ini merupakan yang ke-5 kalinya sejak ditetapkan tahun 2015.

Peringatan hari santri dipimpin langsung Bupati Fahmi Massiara didampingi oleh para pejabat eselon pemkab, dengan menghadirkan Ketua Tanfidziyah NU Wilayah Provinsi Sulbar, H Adnan Nota sebagai penceramah.

Sehubungan dengan peringatan Hari Santri, Dr, H, Andi Amrullah Aqil, Lc, M.ag, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Ponpes Kementerian Agama Majene menyatakan minat masyarakat terhadap ponpes dibanding sekolah negeri cukup tinggi.

“Rata-rata ponpes kelebihan santri, misalnya ponpes ihyaul ulum di baruga menolak santri tapi orang tua ngotot agar anaknya sekolah disitu,” kata Amrullah yang kami wawancari seusai acara.

Dijelaskan Amrullah, ada 2 jenis santri yang mondok di ponpes Majene.

Dr, H, Andi Amrullah Aqil, Lc, M.ag, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Ponpes Kementerian Agama Majene

“Santri ada 2 yaitu santri mukim yang 24 jam berada di ponpes, dan santri kalong yang mengikuti proses pembelajaran dan kegiatan lainnya di ponpes tapi menginapnya diluar ponpes, bisa jadi karena mungkin sarana asrama yang tidak mencukupi atau rumahnya dekat ponpes, tergantung aturan ponpes masing-masing, ada juga yang mewajibkan mukim meskipun rumahnya dekat karena pendidikan di ponpes adalah pendidikan 24 jam” jelas Amrullah.

Mengenai jenis ponpes, Amrullah menyatakan kebanyakan ponpes di majene berjenis khalafi (modern)  yang menggabungkan antara ilmu modern dan ilmu keagamaan, tetapi ada juga satu yang salafi yang khusus mempelajari kitab kuning, kitab gundul, buku-buku klasik yaitu Darul Tahdzib di Simullu.

“Anak yang bersekolah di pesantren tidak perlu lagi belajar di sekolah umum, karena semua mata pelajaran sudah include semua dalam kurikulum pesantren, bedanya porsi ilmu agamanya lebih besar mirip dengan madrasah, tapi karena santrinya diasramakan maka ada pelajaran tambahan seperti pengajian kitab, penguasaan bahasa arab dan bahasa inggris, bahkan beberapa pesantren harus berbicara dalam bahasa arab dan bahasa inggris 24 jam,” kata Amrullah.

Sedangkan mengenai perkembangan ponpes di Majene, Amrullah mengakui posisi kita masih perlu pembenahan.

“Bila dibandingkan dengan jawa, posisi pesantren kita belum bisa dibandingkan dengan mereka, bahkan kita harus belajar dengan mereka. Tapi semua itu berproses, bahkan pesantren yang sudah maju di Jawa seperti Gontor atau Al Amin di Parinduan Madura itu sudah ratusan tahun, sehingga mereka sudah tertempa dengan pengalaman, sementara ponpes kita masih relatif baru,” kata Amrullah.

Uztad Thamrin, Pimpinan Ponpes Miftahul Jihad, Tande

Senada, Uztad Thamrin, pimpinan Ponpes Miftahul Jihad yang berlokasi KelurahanTande menyatakan para orang tua berharap banyak dari ponpes.

“Minat masyarakat untuk masuk pesantren sangat tinggi karena orang tua ingin menjaga anaknya dari pergaulan bebas, narkoba, tawuran, dan hal negatif lainnya, ponpes kami menerima rehabilitasi misalnya anak yang bermasalah dengan hukum, terlibat kriminal, bahkan sampai di DO dari sekolah di rehab di tempat kami. Kami tidak merasa ponpes sebagai tempat pembuangan, justru kami bangga kami ponpes dipercaya untuk memperbaiki keadaan generasi muda,” kata Thamrin.

Pimpinan ponpes yang sudah berdiri sejak tahun 2000 itu menyambut positif adanya hari santri karena merupakan pengakuan dari pemerintah bahwa santri perlu diperhatikan.

“Setelah 5 tahun hari santri sudah ada peningkatan perhatian terhadap ponpres dengan terjalinnya kerjasama dengan berbagai instansi seperti denas kesehatan, pendidikan, dan pertanian,” jelas Thamrin.

Awalnya santri Ponpes Miftahul Jihad hanya 15 santri, sekarang sudah berkembang menjadi 135 santri dari berbagai wilayah seperti Polewali, Maros, Kalimantan, Sulawesi Tenggara.

“Karena kami banyak melakukan gerakan dakwah keluar daerah sehingga pesantren kami dikenal sampai di luar daerah. Kami berusaha untuk bekerja sama dengan semua lembaga dakwah dan tidak mempersoalkan masalah-masalah kecil yang berpotensi memecah belah ummat.” Tutup Thamrin.

(diskominfomajene)